Serba-serbi Diklat Online Pencegahan dan Penanganan Stunting BBPPKS Yogyakarta

  • Serba-serbi Diklat Online Pencegahan dan Penanganan Stunting BBPPKS Yogyakarta
  • 471009ea-8b86-419f-8b30-0a648217c5c3
  • 637ed5b7-92a0-47d1-b6fd-432ced887276
  • fbfee817-9a26-4d96-b054-f0c166858c42
  • cf11907d-c94a-4365-8d3d-7ed228881718
  • 0f75afbf-3dee-4130-a7b3-3e181868b344
  • 3cf1244b-d1ce-4514-8bba-5e0998836312

Angka Stunting menurut WHO minimal ialah 20%, sementara Indonesia angka stunting masih berada pada 27,7%. Stunting adalah kondisi dimana seorang anak memiliki tinggi badan lebih pendek dari anak lain seusianya yang disebabkan kekurangan asupan gizi dalam waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan anak. Target turunkan angka stunting di Indonesia, Kemensos melalui Badiklit Pensos bekerjasama dengan Tanoto Foundation berupaya untuk meningkatkan kompetensi pendamping sosial PKH melalui diklat pencegahan dan penanganan stunting.

Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta menyelenggarakan diklat TKSM (Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat) yaitu diklat Pencegahan dan Penanganan Stunting Bagi SDM Kesejahteraan Sosial dengan formasi 10 gelombang melalui tahapan secara usingkronus dan singkronus. Penyelenggaraan diklat yang dilakukan secara online tentunya tak jarang kendala jaringan menjadi permasalahan yang selalu dihadapi para peserta diklat. Berikut ini rangkuman beberapa cerita menarik dari para peserta selama mengikuti diklat.

Ada salah satu peserta Mohammad Toha Pendamping PKH Kabupaten Jember Angkatan 12 yang mengikuti diklat dengan duduk ditengah kebuh papaya demi memperoleh sinyal yang bagus agar bisa maksimal dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam tahap asingkronus.

Sulfiah, Peserta Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Stunting Angkatan 42, pendamping PKH dari Kecamatan Sine, Ngawi, Jawa Timur merupakan salah satu peserta diklat yang gigih mengikuti diklat meskipun kendala sinyal cukup menghambat kelancaran dalam menerima materi selama tahap singkronus. Meski begitu, Sulfiah tetap berusaha untuk mendapatkan sinyal demi memperoleh ilmu penanganan dan pencegahan stunting yang diberikan oleh para fasilitator BBPPKS Yogyakarta  

Ifoni Indah Marabi, peserta diklat Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Stunting yang berasal dari Kupang memberikan kesan dan pesannya selama menjalani diklat empat hari secara daring. Maklum saja sinyal kami ini GSM (Geser Sedikit Mati)” komentar Ifoni.

Maaf sinyal saya terputus” terlihat salah seorang peserta diklat sedang mencarai sinyal demi mengikuti diklat dengan baik. Inilah perjuangan para pendamping pkh saat mengikuti diklat walaupun kesulitan dalam mencari sinyal para peserta nampak selalu semangat dan antusias dalam mengikuti diklat untuk memperoleh ilmu tentang stunting.

Selain itu juga Nampak peserta yang mengikuti diklat sambal mengasuh anaknya, peserta juga diajak untuk melakukan simulasi dalam emngasuh anak seperti bermain dan bernyanyi. Pentingnya pola asuh pada anak harus selalu kita upayakan demi mengurangi angka stunting di Indonesia. Perjuangan para pendamping PKH dalam mengikuti  diklat juga menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan Indonesia bebas stunting.   

Peserta yang dominan berasal dari Indonesia bagian timur pada diklat tahapan singkronus putaran 2 memang banyak terkendala dengan jaringan internet yang tidak stabil sehingga terkadang saat mengikuti diklat harus berulang kali “terlempar” dari ruangan zoom meeting. Akan tetapi banyaknya kendala tersebut tidak mematahkan semangat para peserta yang juga merupakan pendamping PKH.

Para peserta merasa bersyukur dan senang selama menjalani diklat meskipun keinginan besar berkunjung ke jogja harus sedikit dipendam karena kondisi pandemic yang tidak memungkinan untuk berkumpul secara langsung

Bagikan :